Insight

Ngabuburit bersama Kartu Prakerja: Strategi Marketing Dasar untuk Jualan

Bagikan

Salah satu kelas program pelatihan gratis ‘Ngabuburit bersama Kartu Prakerja’, Senin, 26 April 2021 membahas topik ‘Strategi Marketing Dasar untuk Jualan’ dipersembahkan oleh platform digital Bukalapak dan lembaga pelatihan Sekolahmu.

Pelatihan gratis selama hampir dua jam ini dibawakan oleh CEO Brodo Foot Wear, Yukka Harlanda, dipandu Chief Operating Officer Sekolahmu Radinka Qiera.

Sebagai bos sepatu branded produk dalam negeri, Yukka menjelaskan prinsip dasar penjualan terletak pada produk yang berkualitas.

“Kalau produknya memang bagus, tidak pakai strategi marketing pun tetap akan laku, karena banyak konsumen akan menyebarkannya dari mulut ke mulut,” kata lulusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung ini.

Pemasaran dengan metode ‘word of mouth’ seperti itulah yang menurut Yukka justru paling efektif dalam menjual barang.

“Ibarat multilevel marketing, pembeli yang puas, baik atas produk maupun layanan kita, tak tahan untuk sharing ke temannya,” jelasnya.

Jadi, Yukka kembali menegaskan, fokus pertama adalah kualitas produk.

Hal berikutnya yang tak kalah penting adalah layanan konsumen. Jika hukum pemasaran mengenal The 4Ps alias ‘Product’, ‘Price’, ‘Place’, dan ‘Promotion’, Yukka menambahkan denagn 1 P lagi yakni ‘People’ serta CS alias ‘Customer Service’.

“Soal customer service ini paling gampang diomongkan, tapi paling sulit dijalankan,” tegasnya.

Yukka lalu mengajak peserta pelatihan mengingat-ingat, pernahkah Anda berbelanja di mal atau makan di restoran, dengan barang atau makanan sangat berkualitas, tapi servisnya tak memuaskan.

“Mungkin pelayan restonya ‘jutek’ atau mau mencoba sepatu tapi sepatu yang dicari datangnya lama,” ungkapnya.

Pria yang mendirikan usaha sepatu dengan modal awal hanya Rp 7 juta untuk memproduksi 40 pasang sepatu ini menekankan, jika seorang seorang konsumen memiliki konsumen buruk, kecil kemungkinan ia akan memaksakan diri kembali ke toko atau rumah makan itu.

“Meskipun produk atau makanannya bagus ya,” kata Yukka.

Di sinilah, Yukka memberikan tips agar kita memiliki hubungan dengan pelanggan layaknya dengan saudara sendiri. “Bangun koneksi dengan customers layaknya ‘Bro’ dan ‘Sis’,” pesannya.

Apalagi, kata Yukka, abad ini menjanjikan sebuah peluang baru: berjualan secara online.

“Kita bisa bekerja dari rumah. Tokonya buka 24 jam, tapi kita cukup pakai celana pendek saja,” katanya.

Namun, jangan salah, di era digital ini justru tuntutan customer makin tinggi.

“Pernah ada yang memilih sepatu saja sampai sejam berbicara lewat telepon. Di era jualan online inilah, kecepatan respon menjadi hal terpenting. Penjual harus benar-benar bersikap seramah mungkin,” tegas Yukka.

Sepatu Brodo awalnya hanya dijual secara online, tapi kini Brodo telah memiliki lima toko offline di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Bekasi.

Yukka menceritakan beberapa pengalaman menarik Brodo mengelola layanan pelanggan.

“Pernah ada customer beli sepatu. Setelah tiga bulan belanja, sepatu itu tidak pernah dipakainya. Eh, saat dipakai, sepatu itu tidak muat, dan si pembeli ini minta tukar,” ujarnya.

Brodo melayani permintaan itu. “Si pelanggan senang, dia cerita ke teman-temannya lewat media sosial, dan penjualan kami pun naik drastis,” cerita Yukka.

Ada cerita lain, kala pada sebuah Jumat pagi, seorang pembeli memesan sepatu secara online ke pusat produksi Brodo di Bandung. Setelah menemukan sepatu yang pas, sang kustomer ingin agar sepatu pilihannya diterima Jumat sore itu juga di Sentul, Bogor.

“Pembeli ini ingin segera memakai sepatu tersebut untuk keperluan pemotretan pre-weddingnya. Padahal, jasa kurir manapun tak sanggup mengirim secepat itu,” kenang Yukka.

Tak ingin mengecewakan konsumennya, Brodo mengirim sepatu itu melaui jasa travel Bandung-Jakarta, untuk kemudian diantar melalui motor ke Sentul.

“Harga sepatunya Rp 300 ribuan, tapi kami perlu sekitar Rp 200 ribu untuk biaya pengiriman barangnya. Pada pembelian pertama ini, jelas kami mengalami kerugian,” kisah Yukka.

Tiga tahun kemudian, ia mengecek riwayat transaksi sang pembeli sepatu itu.

“Kami terkejut, dalam kurun waktu tiga tahun, ternyata ia telah melakukan 12 kali pembelian!” kisahnya.

Dalam konteks inilah, Yukka berpendapat, jika customer service bisa membuat seorang pelanggan senang, maka sebuah produk tak lagi memerlukan strategi marketing secara khusus.

“Kita tak harus menjual barang kepada seribu konsumen. Cukup kepada sepuluh orang saja, tapi pastikan yang sepuluh orang ini benar-benar ‘cinta mati’ kepada produk kita,” terangnya.

Yukka pun menekankan pentingnya berinvestasi pada sisi customer service, niscaya ‘return’-nya akan besar.

“Tidak mungkin orang yang diperlakukan dengan baik tidak akan membalas dengan baik pula,” pungkasnya.

Artikel Lainnya

InsightDesain Grafis Bisa Dipelajari Segala Profesi

Dalam berkomunikasi, ada banyak cara yang bisa dilakukan. Selain verbal, pesan atau informasi juga bisa disampaikan lewat elemen grafis. Desain grafis saat ini bisa dipelajari oleh siapa pun untuk kepentingan beragam. Misalnya, pembuatan content media sosial atau materi presentasi. Bagi desainer grafis profesional, program Adobe Illustrator, Corel Draw, maupun Adobe Photoshop lumrah dikuasai. Namun demikian, …

InsightNgabuburit Bersama Kartu Prakerja: Tingkatkan Penjualan dengan Facebook Marketing

Pelatihan gratis ‘Ngabuburit Bersama Kartu Prakerja’ yang digelar pada Selasa, 27 April 2021, menghadirkan tema ‘Tingkatkan Penjualan dengan Facebook Marketing’ dipersembahkan oleh platform digital ‘Pijar Mahir’ dan lembaga pelatihan ‘Sertifikasiku’. Dipandu oleh Mudrika Kemala, pelatihan bagaimana mengoptimalkan Facebook sebagai sarana promosi produk/jasa ini menampilkan narasumber Juanda Marvelim, seorang mentor ‘Sertifikasiku’ yang menekuni bidang digital marketing. …

InsightPasar Kerja Masa Depan Berubah, Asah Keterampilan Komunikasi agar Tetap Eksis

Kebutuhan pasar kerja di masa depan bakal berubah drastis. Pekerjaan yang terkait teknologi bakal lebih mendominasi. Seiring dengan itu, keterampilan kerja yang dibutuhkan untuk masa depan pun tak sama lagi dengan saat ini. World Economic Forum (WEF) dalam laporannya menyebutkan ada 15 keterampilan yang paling dibutuhkan pada 2025. Hasil survei WEF mencatat, 2 dari 15 …

InsightSimak, Tips agar Bisnis Kuliner Makin Cuan

Bisnis kuliner menjadi salah satu pilihan yang diminati masyarakat di masa pandemi. Ada yang menjadikan bisnis kuliner sebagai usaha utama, namun tak sedikit yang menjadikannya sampingan. Sobat Prakerja yang berniat membuka bisnis kuliner mesti dikelola dengan tepat agar betul-betul menguntungkan. Oleh karenanya, calon pebisnis kuliner atau pebisnis kuliner pemula mesti memperhatikan sejumlah hal. Salah satunya …